Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Tuesday, July 4, 2017

Arti syair SLUKU-SLUKU BATHOK

SLUKU-SLUKU BATHOK
-----------------------------------------
Sluku-sluku bathok,
Bathoké éla-élo
Si Rama menyang Solo,
Oléh-oléhé payung mutho.
Mak jenthit lolo lo bah,
Yén mati ora obah
Yén obah medéni bocah,
Yen urip goléko dhuwit


Sluku-sluku bathok
Artinya, hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja. Waktunya istirahat ya istirahat, untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi seimbang. Bathok atau kepala kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuannya.

Bathoké éla élo 
Artinya, dengan berdzikir (éla-élo = Laa Ilaaha Ilallah), mengingat Allah, syaraf neuron di otak akan mengendur. Ingatlah Allah, dengan mengingat-Nya hati menjadi tentram.

Si Rama menyang Solo
Artinya, siram (mandilah, bersucilah) menyang (menuju) Solo (Solat). Lalu bersuci dan dirikanlah salat.

Oléh-oléhé payung mutho
Artinya, maka kita akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah, Tuhan kita.

Mak jenthit lolo lo bah
Artinya, kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu. Tak dapat diprediksi tak juga terkira. Tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sesaat.

Wong mati ora obah
Artinya, saat kematian datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang.

Yen obah medéni bocah.
Artinya, banyak Jiwa Yang-Rindu Untuk-Kembali Pada-Allah ingin minta dihidupkan, tapi Allah tak mengizinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknya pasti menakutkan dan madlaratnya tentu lebih besar.

Yén urip goléko dhuwit.
Artinya, kesempatan untuk beramal hanya ada di saat sekarang (selagi mampu sekaligus ada waktu) bukan di nanti (ketidakmampuan dan hilangnya kesempatan), tempat beramal hanya di sini (Dunia) bukan di sana (Akherat), di sana bukan tempat beramal (bercocok tanam) tapi tempat berhasil (panen raya).

source 

Sunday, June 18, 2017

Summary The Incredible History Of Java's Map From 10,000 BC To 2017 In 6 Mins (Rangkuman Sejarah Hebatnya Tanah Jawa dari 10.000 SM - 2017 dalam 6 menit)

This 6 minute video represents the beginning of civilization in Java Land. In this video depicts the History of Javanese Civilization which started from the emergence of the first developed culture in the mountain of Padang around 10,000 BC. Until the emergence of the royal kingdom ever mastered such as Sunda kingdom, Majahapit, and old Mataram, even the Kingdom of Tarumanagara. From the depiction of Java land mastery in this video, illustrates how important and influential Java land for the kingdom and the nation who tried to expose it at that time. Hopefully Helpful, Thank you.


Video yang berdurasi 6 menit ini merupakan yang menggambarkan awal mula peradaban di Jawa Tanah. 
Dalam video ini menggambarkan Sejarah Peradaban jawa yang dimulai dari munculnya kebudayaan maju pertama di gunung Padang sekitar 10.000 SM. Hingga munculnya kerajaan kerajaan yang pernah menguasai seperti kerajaan sunda, Majahapit, dan Mataram tua,bahkan  Kerajaan Tarumanagara. Dari penggambaran penguasaan tanah jawa dalam video ini, menggambarkan betapa penting dan berpengaruhnya tanah Jawa bagi kerajaan dan bangsa bangsa yang berusaha memperbutkan nya kala itu. Semoga Bermanfaat, Terimakasih.


video source YouTube User -> Lazardi Wong Jogja channel 

Friday, September 30, 2016

KOPI berjuta ARTI.. Jangan Lupa NGOPI ya


Banyak Orang yang meredam segala sesuatu yang memanas dengan kalimat "ayo ngopi dulu" atau orang jawa bilang "ngopi ndisik" atau "Ojo lali ngopi sik" dsb.
ternyata dalam falsafah jawa memang berasal dari kata utama "KOPI" akan tetapi jika diurai menjadi beberapa kalimat yang bermakna, Simak uraian berikut :
*KOPI* iku tegese *(KOpyor PIkirane)
artinya KOPI dapat diartikan Pusing pikirannya

Mulo kopi iku rasane *Pait.* Nanging sak pait-paite kopi
maka dari itu kopi rasanya pahit (tidak enak), akan tetapi sepahit-pahitnya kopi

Isih iso digawe *LEGI* ( LEGowo ning atI )
masih bisa dibuat manis (LEGI) (LEGowo ning atI artinya asal lega dihati)

Carane kudu ditambahi *GULO* (GULangane rosO)
caranya harus ditambahi gula (GULO) (GULangane rosO artinya pengendalian rasa/keinginan (kata sifat seperti rasa ingin))

Sing asale soko *TEBU* (anTEB ning kalbU),
yang berasal dari tebu (TEBU) (anTEB ning kalbU artinya kuat di kalbu (angan-angan))

Banjur diwadahi *CANGKIR* (nyanCANGne piKIR).
kemudian ditempatkan di cangkir/gelas kecil (CANGKIR) (nyanCANGne piKIR artinya menetapkan/mengarahkan pikiran)

Trus di siram *WEDANG* (WEjangan sing marahi paDANG)
kemudian disiram dengan air panas (WEDANG) (WEjangan sing marahi paDANG artinya Nasehat yang mengarahkan ke jalan yang benar)

Ojo lali di *UDHEG* ( Usahane ojo nganti manDHEG )
jangan lupa di aduk (UDHEG) (Usahane ojo nganti manDHEG artinya jangan berhenti berusaha menjadi lebih baik)

Anggone nek ngudhek nganggo *SENDOK" ( SENdekno marang sing nduwe ponDOK/omah )
mengaduknya pake sendok (SENDOK) (SENdekno marang sing nduwe ponDOK/omah artinya pasrahkan pada yang punya pondok / pesantren)

Dienteni ben rodo *ADEM* ( Atine ben aDEM ),
ditunggu sampai dingin (ADEM) ( Atine ben aDEM artinya hatinya biar tentram)

Bar kui diombe *SERUPUT* (SEdoyo RUbedo bakal luPUT).
habis itu diminum sedikit demi sedikit (SERUPUT) (SEdoyo RUbedo bakal luPUT artinya segala kesalah pahaman / perbedaan menjadi hilang)


itulah falsafah *KOPI* semoga menambah wawasan anda semua. dan semoga bermanfaat. Terima kasih


Monday, September 26, 2016

5 Mitos Jawa Ini Memiliki Nilai Pendidikan Dan Pengajaran yang tinggi


Indonesia adalah negara yang sangat menghargai budaya dan adat istiadat para leluhur, karena setiap daerah di Indonesia memiliki banyak sekali adat dan budaya yang berbeda-beda, khususnya di Tanah Jawa. Sebelum dan sesudah tersiarnya agama islam, orang jawa memang sangat gandrung dengan beberapa adat dan budaya, di mana adat dan budaya ini juga bersumber dari berbagai macam kepercayaan yang terkadang sering dianggap mitos.





Berbicara tentang kepercayaan jawa yang sering dianggap mitos, Anda tentu sudah sering mendengar mitos-mitos yang beredar di sana-sini yang sudah disampaikan oleh orang-orang tua di tanah Jawa. Anda juga tentu mengerti bahwa mitos hanya sebuah ide semu yang bersifat fiktif dan tidak nyata, bahkan perkembangan ilmu sains membantah dengan jelas tentang kebenaran kepercayaan / mitos-mitos tersebut.


Meskipunpun demikian, tidak semua mitos jawa itu bernilai buruk bagi Anda karena ada beberapa mitos jawa yang memiliki nilai pendidikan yang sangat tinggi. Orang-orang jawa zaman dulu memang mengajarkan dan mendidik anak-anak mereka dengan menggunakan beberapa kepercayaan-kepercayaan / mitos-mitos agar mereka takut dan patuh yang sering dianggap orang awam adalah sebuah hal yang aneh. Hal ini dikarenakan Orang-orang jawa pada zaman dahulu tidak menggunakan kata2 secara langsung (kata dengan arti yang sesungguhnya) melainkan dengan perumpamaan-perumpamaan. Lalu, apa saja kepercayaan / mitos jawa yang bernilai pendidikan tinggi yang sudah beredar dan yang sering kita dengar ?.

Ojo Lunggguh Nang Duwur Bantal, Mundak Udunen
“Jangan duduk di atas bantal. Itu menyebabkan penyakit bisul (di pantat)”


Sebenarnya, jika dipikir lagi, pastinya tidak ada hubungan sama sekali antara bantal, pantat, dan penyakit bisul (udun) bukan ?. Namun, orang jawa dulu memang mendidik anak agar memiliki moral dan etika dalam melakukan hal-hal kecil, hanya saja agar mereka menakut-nakuti anak agar bisa patuh.

Nilai pendidikan dari mitos di atas seperti ini, bantal adalah tempat untuk kepala saat tidur, tentu saja sangat tidak sopan jika ditempati untuk pantat. Ini adalah pendidikan moral yang luar biasa, yang ditanamkan orang jawa dulu kepada anak-anak mereka, meskipun melalui mitos.

Ojo Ngadek Nang Tengah Lawang Omah, Marai Ora Payu Rabi
“Jangan berdiri di tengah-tengah pintu rumah, itu menyebabkan tidak laku menikah (tidak mendapatkan jodoh)”

Orang jawa dulu sangatlah penurut terhadap nasehat orang tua, mereka sangat takut jika sudah dewasa tidak mendapatkan jodoh untuk menikah, dan akhirnya mereka patuh dan mengajarkan hal itu pada generasi selanjutnya.

Ya, tidak ada hubungan antara masalah jodoh dan pintu, orang jawa dulu hanya mendidik bahwa pintu rumah adalah tempat sempit, jika ada orang berada di tengah-tengah pintu, maka tentu akan mengganggu jalan. Ini adalah cara mendidik mereka dengan menanamkan mitos agar anak-anak mereka patuh.

Bocah Perawan Masak Kasinen Berarti Wes Kudu Rabi
“Anak perawan yang memasak terlalu asin berarti sudah ingin menikah”

Apa Anda juga berpikir bahwa keinginan untuk menikah bisa mempengaruhi rasa dalam resep masakan ?, tentu saja tidak karena ini hanyalah mitos jawa. Tetapi, ini bukanlah mitos yang tidak memikili arti, justru ada nilai pendidikan di dalamnya. Masakan terlalu asin, maksudnya anak perawan tersebut harus banyak belajar dan mencoba karena suatu saat ia akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus pandai memasak.

Ojo Songgo Uwang, Ora Ilok, Koncone Setan
“Jangan suka melamun, tidak baik, (melamun itu) temannya syetan”

Anda pasti tahu persis bahwa syetan mengemban misi untuk menggoda dan menyeret umat manusia agar menjadi teman mereka di neraka, dengan mengajak umat manusia ke jalan kemusyrikan, melakukan maksiat, dan melalaikan kewajiban kepada Tuhan SWT. Tentu tidak logis jika hanya karena melamun seseorang menjadi teman syetan di neraka.

Nilai pendidikan dari mitos ini, melamun adalah pekerjaan yang sia-sia dna kurang membero manfaat bagi semua orang. Ada banyak aktivitas yang lebih penting untuk dikerjakan daripada melamun, seperti bekerja, belajar, dan berpikir.

Sande’olo Ojo Dolanan, Marai Belahi, Sande’olo Iku Wayahe Syetan Podo Metu
Waktu sande’ala jangan bermain, itu menyebabkan terkena musibah, sande’ala itu waktu di mana para syetan keluar.

Orang jawa mengatakan bahwa waktu “sande’olo” merupakan singkatan dari “sandinge olo ”, dalam bahasa Indonesia berarti “berada di samping atau dekat dengan keburukan”. Sande’olo adalah waktu menjelang gelap, waktu sebelum maghrib tiba.

Orang-orang tua dulu selalu melarang anak-anak kecil untuk berhenti bermain di waktu menjelang maghrib. Mereka menanamkan mitos ini turun temurun dari generasi ke generasi sampai saat ini, agar anak–anak kecil takut dan patuh kalau mereka terus bermain di waktu itu maka mereka akan terkena musibah seperti jatuh, sakit, atau sebagainya.

Namun, bukan berarti waktu menjelang maghrib adalah waktu para syetan keluar dari sarang karena syetan selalu menggoda manusia kapan pun dan di mana pun manusia berada. Mitos ini hanya batu lompatan untuk mengajarkan anak agar berhenti bermain, lekas bersiap melaksanakan sholat maghrib, kemudian mengaji.


source

Thursday, August 4, 2016

Alasan Foto Jaman Dahulu jarang terlihat Senyum

Sebuah foto adalah dokumen paling penting, dan tidak ada yang ingin menurunkan ke cucu tentang kekonyolan dan senyum bodoh yang tertangkap dan  selamanya. jadi hampir tidak ada orang yang tersenyum atau memonyongkan bibirnya waktu difoto. Kebanyakan mereka memasang wajah serius bahkan tanpa senyum. Semuanya tampak tegang, seolah berfoto adalah hal yang menakutkan.


Kenapa begitu, Simak alasanya berikut :

1. adat orang tempo dulu apalagi bangsawan itu jika tertawa/tersenyum terlihat giginya apalagi perempuan, dinilai tidak sopan 
khusus kaum bangsawan ente tahu sendiri kan image di lingkungan kerajaan atau bangsaawn itu sangat kental dan harus menjaga sopan santun perilaku, tindakan, dan lain sebagianya 

NB : Bukan berarti dalam keseharian tidak boleh senyum, akan tetapi senyum simpul yang menandakan bukan senyum berlebihan / sampai menapakkan gigi (Nyengir).  

2. Kamera jaman dulu nggak secanggih sekarang. 
Orang jaman dahulu harus duduk berpuluh2 menit untuk menghasilkan sebuah foto. 
Pasti capek karena lama menunggu dan senyum pun bisa hilang saat bunyi cekrek kamera terdengar dan blitz kamera zaman dulu juga belum secanggih sekarang. Bunyi cekreknya masih keras dan terkadang bikin kaget.

3. Pada sekitar tahun 1870-an, pengambilan foto hanya ada saat acara-acara istimewa saja dan mencakup banyak orang sekaligus. 
Prosesnya yang cukup ribet dan ‘serius’ ini menyebabkan orang yang difoto pun memasang wajah serius. Karena senyum bisa dianggap tidak beretika

4. Masa itu, pengalaman di foto merupakan pengalaman langka
dan orang menganggap nyawanya akan ‘tertahan’ dalam foto tersebut. Jadi, wajah pun nggak boleh tersenyum.

5. Pengaruh kondisi masyarakat 
pada masa itu (jaman penjajahan/masa perang) membuat mereka susah tersenyum. Bayangkan saja, sedang dijajah belanda, susah mungkin mereka senyum saat disuatu tempat sedang perang, kelaparan, atau dilanda wabah penyakit.

Selain itu juga
Foto adalah dokumen penting, dan akan sangat memalukan jika sampai anak, cucu dan keturunannya melihat mereka tersenyum/manampakkan gigi ketika difoto pada jaman itu foto menggambarkan moral seseorang, jadi kalo senyum / nampakkan gigi itu tandanya dia orang yg moralnya kurang.



dan Juga :
--Indeed, not only were smiles of the middling sort, they breached propriety. In 1703, one French writer lamented "people who raise their upper lip so high... that their teeth are almost entirely visible." Not only was this discourteous, he asked: Why do it at all? After all, "nature gave us lips to conceal them."--

--Memang, tidak hanya itu senyum yang agak lebar, melanggar kepatutan. Pada tahun 1703, salah satu penulis Prancis "orang-orang yang mengangkat bibir atas mereka begitu tinggi. bahwa gigi mereka hampir seluruhnya terlihat." Tidak hanya tidak sopan, ia bertanya: Mengapa melakukan semua itu? Setelah, "alam memberi kita bibir untuk menyembunyikan mereka."--

dan 1 lagi 
--By the 17th century in Europe,“a well-established fact that the only people who smiled broadly, in life and in art, were the poor, the lewd, the drunk, the innocent, and the entertainment.”--

--sekitar abad ke 17 di eropa ,"bahwa satu-satunya orang yang tersenyum lebar, dalam hidup dan seni adalah orang2 miskin, cabul, mabuk, yang lugu, dan pada pelaku hiburan"--

berbeda dengan gaya foto yang sering kita jumpai sekarang.




Silahkan ambil sisi positif dan terbaik buat anda. Semoga Bermanfaat, Terimakasih



source
kaskus.co.id

Wednesday, July 13, 2016

Sejarah Posisi Kancing Baju Pria dan Wanita berbeda

Mungkin selama ini beberapa orang jarang menyadari hal ini, Namun Jika Anda memperhatikan, pakaian kemeja wanita dan pria memiliki posisi kancing yang berbeda. apakah anda tahu apa yang membuat setiap pakaian pria dan wanita memiliki posisi kancing yang berbeda?

Tak hanya asal menempatkan posisi kancing pada kemeja tersebut, Rupanya, ada sejarah yang membuat posisi kancing pria dan wanita berbeda sampai sekarang. Berbagai macam teori dikemukakan untuk mengungkapkan alasan kenapa posisi kancing baju kemeja pria dan wanita berbeda posisi.



Berikut Alasan kenapa posisi kancing baju pria dan wanita berbeda.

1. Skema Napoleon Bonaparte untuk menghentikan wanita agar tidak mengejeknya

Di setiap pose Napoleon Bonaparte selalu bergaya dengan menyelipkan tangan kanannya ke dalam baju yang ia kenakan. Maka jika orang melihatnya, mereka akan beranggapan bahwa ia hanya bisa memasukan tanganya itu jika kancing baju berada disebelah kiri.



Banyak wanita yang selalu meniru dan mengejeknya jika melihat pose-posenya tersebut. Ia kemudian memerintahkan pakaian semua wanita harus memiliki kancing pada sisi yang berlawanan, agar mereka tidak bisa lagi mengejeknya.

2. Jika berpakaian, wanita terdahulu kerap dibantu oleh pegawai sedangkan pria mengenakanya sendiri

Zaman dahulu, pria biasanya selalu mengenakan pakaiannya sendiri, namun wanita bangsawan kerap dibantu oleh para pegawainya untuk mengenakan pakaian mereka. Kebanyakan para pegawai menggunakan tangan kanan nya, hal itu karena terasa lebih mudah bagi mereka jika kancing bajunya ada di sebelah kiri.


3. Saat perang pria memegang pedang di tangan kanannya, sementara perempuan menjaga bayinya di sebelah kiri mereka

Hal tersebut, dianggap lebih mudah bagi pria untuk membuka kancing bajunya menggunakan tangan kiri mereka, saat mereka disibukkan dengan pedang selama perang.

Adapun wanita, mereka menjaga bayinya dengan tangan kiri, agar tangan kanannya dapat digunakan untuk membuka kancing saat menyusui dengan mudah.

4. Wanita ingin membuktikan bahwa mereka sama dengan laki-laki

Baca Juga

Sejarah Asal Muasal Ketupat saat Lebaran

Alasan tulisan pada mobil AMBULANCE dibuat terbalik

Teori lain mengatakan bahwa untuk membuktikan bahwa perempuan sama dengan laki-laki, banyak fitur dari pakaian pria yang dipakai oleh kaum wanita. Tapi di sisi lain hal itu sangat bertentangan, oleh karena itu mereka membuat beberapa perubahan untuk menunjukkan bahwa mereka berbeda dengan pria. Sehingga posisi kancing-kancing pada baju wanita dibuat berlawanan. 


Friday, July 1, 2016

Sejarah dan Filosofi Ketupat

Konon adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.
Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

*Arti Kata Ketupat.*
Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus.  Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari :

  • NGAKU LEPAT dan LAKU PAPAT.
  • Ngaku lepat artinya MENGAKUI KESALAHAN.
  • Laku papat artinya EMPAT TINDAKAN.
  • NGAKU LEPAT.

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.




LAKU PAPAT :
  1. LEBARAN.
  2. LUBERAN.
  3. LEBURAN.
  4. LABURAN.


LEBARAN

  • Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.


LUBERAN

  • Meluber atau melimpah, 
  • Ajakan bersedekah untuk kaum miskin. 
  • Pengeluaran zakat fitrah.


LEBURAN
  • Sudah habis dan lebur. 
  • Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis 
  • karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.


LABURAN

  • Berasal dari kata labur, 
  • dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
  • Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.


FILOSOFI KUPAT - LEPET

KUPAT
Kenapa mesti dibungkus JANUR ? 
Janur, diambil dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ). 
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat HATI manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti 

KUPAT YANG DIBELAH, 
pasti isinya putih bersih, 
hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? 
Karena hatinya sudah dibungkus CAHAYA (ja'a nur).

LEPET
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita KUBUR/TUTUP YANG RAPAT.

Jadi setelah ngaku lepet, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya KETAN DALAM LEPET.

Semoga bermanfaat, Terimakasih

source : facebook group

Tuesday, May 24, 2016

Ternyata! Lagu Lingsir wengi Bukanlah lagu pengundang HANTU

Siapa yang tidak kenal dengan lagu ini, lagu ini langsung terkenal dikarenakan mitos yang dikaitkan dengan lagu tersebut. dahulu, bagi mereka yang mendengarkan dan menyanyikan lagu ini, maka ketika berada pada bait:

Lagu dalam bahasa asli (Jawa)

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro…
Aku lagi bang wingo wingo…
Jin setan kang tak utusi…
Dadyo sebarang…
Wojo lelayu sebet…

Jika Diartikan dalam bahasa INDONESIA

Menjelang malam, dirimu akan lenyap…
Jangan bangun dari tempat tidurmu…
Awas jangan menampakkan diri…
Aku sedang dalam kemarahan besar…
Jin dan setan yang kuperintah…
Menjadi perantara…
Untuk mencabut nyawamu…

Maka mereka yang menyanyikan dan sampai pada bait di atas, maka bagi yang menyanyikannya akan dijumpai oleh sosok makhluk yang menakutkan dengan nama KUNTILANAK. ketika ada beberapa kisah dari rahasia lagu lingsir wengi ini ketika mereka yang mengaku berjumpa dengan makhluk yang menakutkan tersebut, maka lagu ini pun langsung terkenal di Indonesia dengan ciri khas lagu yang menakutkan.

Lalu, apakah benar lagu lingsir wengi ini memang dapat mendatangkan Setan berupa kuntilanak ketika saat dinyanyikan? oleh karena itu perlu kita teliti bagaimanakah sebenarnya rahasia Lagu Lingsir Wengi ini sesungguhnya.

Dari beberapa sumber dinyatakan bahwa Lagu Lingsir Wengi diciptakan oleh Sunan Kalijaga salah satu tokoh ulama terkenal dengan sebutan WALISONGO yaitu wali diantara wali sembilan yang terkenal dipulau jawa karena mengajarkan kebaikan dengan mengenalkan dan mengajarkan agama islam di tanah jawa. salah satu metode sunan kalijaga dalam mengajarkan adalah dengan lagu dan menerapkan lagu tersebut dalam acara wayang atau perwayangan. hal tersebut disebabkan kegemaran dari masyarakat sekitar yang sangat mencintai kesenian wayang kulit, sehingga dengan cara tersebutlah sunan kalijaga untuk menyampaikan ajaran agama Islam di Indonesia khususnya di pulau jawa saat itu.






Lahirnya Lagu Lingsir Wengi melahirkan beberapa wacana, baik yang positif maupun negatif. wacana positif lagu ini adalah sebuah syair-syair sebagai perenungan dalam hidup, ketabahan dalam menghadapi cobaan baik dari manusia maupun dari jin atau setan. lagu ini juga bermakna sebagai doa untuk menolak bencana dan lagu ini juga bertujuan untuk mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari bencana dan berbagai masalah.

KIDUNG RUMEKSA ING WENGI
(Sunan Kalidjaga)

Ana kidung rumeksa ing wengi --> Ada kidung yang menjaga di waktu malam
teguh hayu luputa ing lara --> kukuh selamat terbebas dari berbagai penyakit
luputa bilahi kabeh -->  terbebas dari semua malapetaka
jim setan datan purun --> jin setan kejahatan pun tidak berkenan
paneluhan tan ana wani --> guna-guna pun tidak ada yang berani
miwah panggawe ala --> juga perbuatan jahat
gunane wong luput --> ilmu-ilmunya orang yang bersalah
geni atemahan tirta --> api dan juga air
maling adoh tan ana ngarah mring mami --> pencuri pun jauh tidak ada yang mengarah kepadaku
guna duduk pan sirna. --> guna-guna sakti pun lenyap.
Sakabehing lara pan samya bali --> Segala penyakit pun bersama-sama kembali ke asal
sakeh ngama pan sami miruda --> berbagai hama pun terpaksa terkikis habis
welas asih pandulune --> dengan kasih sayang dipandang
sakehing braja luput --> terhindar dari semua senjata
kadi kapuk tibaning wesi --> seperti kapuk jatuhnya besi
sakehing wisa tawa --> semua bisa menjadi hambar
sato galak tutut --> binatang buas pun menjadi jinak
kayu aeng lemah sangar --> kayu ajaib dan tanah keramat bahaya
songing landak guwaning wong lemah miring --> relung landak guanya orang tanah miring
myang pokiponing merak. --> dan rumah tinggalnya merak.
Pagupakaning warak sakalir --> Kandangnya segenap badak
nadyan arca myang segara asat --> walau batu-batu dan lautan kering
temahan rahayu kabeh --> pada akhirnya semua selamat sejahtera
apan sarira ayu --> sebab berbadan jelita keselamatan
ingideran sang widadari --> dikelilingi penuh bidadari
rineksa malaekat --> dijaga oleh para malaikat
sakatahing rasul --> juga segenap rasul
pan dadi sarira tunggal --> menyatu menjadi berbadan tunggal
ati Adam utekku bagendha Esis --> hati Adam, otakku Baginda Sis
pangucapku ya Musa. --> pengucapku ialah Musa.
Napasku nabi Ngisa linuwih --> Napasku mengalir Nabi Isa yang amat mulia
nabi Yakub pamiyarsaningwang --> Nabi Yakub menjadi pendengaranku
Yusup ing rupaku mangke --> Nabi Yusuf wajahku kini
nabi Dawut swaraku --> Nabi Daud menjadi suaraku
jeng Suleman kasekten mami --> Tuan Sulaiman menjadi kesaktianku
nabi Ibrahim nyawaku --> Nabi Ibrahim menjadi nyawaku
Edris ing rambutku --> Nabi Idris dalam rambutku
bagendha Li kulitingwang --> Baginda Ali menjadi kulitku
getih daging Abu Bakar Ngumar singgih --> Darah dagingku Abu Bakar dan Umar
balung bagendha Ngusman. --> Tulangku baginda Usman.
Sungsumingsun Patimah linuwih --> Sumsumku Fatimah yang amat mulia
Siti Aminah bayuning angga --> Siti Aminah menjadi kekuatan badanku
Ayub ing ususku mangke --> Nabi Ayub kini ada dalam ususku
nabi Nuh ing jejantung --> Nabi Nuh di dalam jantungku
nabi Yunus ing otot mami --> Nabi Yunus di dalam ototku
netraku ya Muhammad --> penglihatanku ialah Nabi Muhammad
pamuluku rasul --> wajahku rasul
pinayungan Adam sarak --> terlindungi oleh hukum Adam
sampun pepak sakathahing para nabi --> sudah mencakupi seluruh para nabi
dadya sarira tunggal. --> berkumpul menjadi badan yang tunggal.
Wiji sawiji mulane dadi --> Terjadinya berasal dari biji yang satu
apan pencar saisining jagat --> sebab-musabab kemudian berpencar ke seluruh dunia
kasamadan dening date --> terimbas oleh dzat-Nya
kang maca kang angrungu --> yang membaca dan yang mendengarkan
kang anurat kang anyimpeni --> yang menyalin dan yang menyimpan
dadi ayuning badan --> menjadi selamat sejahtera badannya
kinarya sesembur --> sebagai sarana mengusir
yen winacakna ing toya --> jikalau dibacakan di dalam air
kinarya dus rara tuwa gelis laki --> sarana mandi perawan tua cepat mendapat jodoh
wong edan nuli waras. --> orang gila pun cepat sembuh.
Lamun ana wong kadhendha kaki --> Apabila ada orang yang didenda, wahai cucuku
wong kabanda wong kabotan utang --> orang yang dihimpit keberatan hutang-piutang
yogya wacanen den age --> seyogyanya engkau membaca dengan segera
nalika tengah dalu --> pada waktu tengah malam hari
ping sewelas wacanen singgih --> bacalah dengan sungguh-sungguh sebelas kali
luwar saking kabanda --> terbebas dari jeratan
kang kadhendha wurung --> yang didenda pun urung
aglis nuli sinauran --> lekas kemudian terbayarkan
mring hyang Suksma kang utang puniku singgih --> yang berhutang itu sungguh oleh Tuhan
kang agring nuli waras. --> yang sakit pun segera mendapat kesembuhan.
Lumun arsa tulus nandur pari --> Jikalau akan lancar menanam padi
puwasa sawengi sadina --> berpuasalah sehari semalaman
iderana galengane --> kelilingilah pematangnya
wacanen kidung iku --> bacalah kidung ini
sakeh ngama sami abali --> semua hama bersama-sama kembali ke asal
yen sira lunga perang --> apabila engkau pergi berperang
wateken ing sekul --> bacakanlah ke dalam nasi
antuka tigang pulukan --> dapatkan tiga suapan
musuhira rep sirep tan ana wani --> musuhmu tersihir tidak ada yang berani
rahayu ing payudan. --> selamat engkau di medan perang.
Sing sapa reke bisa nglakoni --> Siapa pun yang dapat melaksanakan
amutiya lawan anawaa --> berpuasa mutih hanya (minum) air dan (makan) nasi
patang puluh dina bae --> empat puluh hari saja
lan tangi wektu subuh --> dan bangun pada waktu subuh
lan den sabar syukur ing ati --> lalu berlaku sabar serta bersyukur di dalam hati
insya Allah tinekan --> insya Allah dapat tercapai
sakarsanireku --> atas izin kehendak Allah
tumrap sanak rakyatira --> bagi semua sanak-saudaramu
saking sawabing ngelmu pangiket mami --> oleh daya kekuatan ilmu pengikatku
duk aneng Kalidjaga. --> pada waktu berada di Kalijaga.

Lalu bagaimana bisa lagu ini diasumsikan sebagai lagu pemanggil setan yaitu KUNTILANAK? jika ditelusuri secara mendalam kemungkinan lagu ini menjadi lagu yang misteri yaitu dari lirik lagu dan nadanya yang begitu seram ketika kita mendengarnya, terlebih jika lagu ini kita dengarkan dan nyanyikan pada malam hari, maka rasa takut itu akan selalu datang seiring Mitos yang berkembang mengenai lagu ini.

Akan tetapi perlu saya ingatkan, bahwa lagu ini tidak aneh, tidak menyimpan misteri dan bukan lagu pemanggil setan.

Semoga bermanfaat, Terimakasih

sumber FP Beranda Mistery

Friday, May 13, 2016

Apa yang kau kira tak seperti apa yang sebenarnya terjadi

Bacalah pelan-pelan kisah nyata ini.

(Kiriman sahabat)

Dari kisah nyata seorang guru.

Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.
Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya selalu berpakaian kotor dan acak-acakan.

Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.

Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. 
Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.

Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.

Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,”

Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,” Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”

Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”

Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam.

Terbukalah mata dan hati guru itu. 
Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak : “Bu guru kerja sampai sore di sekolah, kamu juga bagaimana kalau belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”

Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.
Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh, prepare dan review dia lakukan dibangkunya di kelasnya.

Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.

Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis.
“Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”
Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak.

Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”

Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. 
Di sana tertulis, “Saya sudah menjadi dokter yang saya mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”

Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.

Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,
“mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”

Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia.

Pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari kisah nyata diatas ...? 

Silahkan dijadikan renungan dan diambil sisi positif nya untuk bekal kehidupan.

Salam hangat tetap Semangat.